MOH. FAUZIL ADHIM - MASJID NUR ALAM NUR JUMAT 20 DESEMBER 2019 - BA’DA ISYA

Mohammad Fauzil Adhim. Itulah nama lengkapnya. Seorang Ustadz kosmopolitan yang memiliki segudang karya. Selain sebagai seorang pendakwah, ustadz Fauzil (panggilannya) ini juga merupakan seorang penulis yang aktif dan produktif. Beberapa tulisannya begitu menyentuh dan menginspirasi banyak orang. Ya, dia adalah penulis buku tentang pendidikan anak-anak sekaligus pakar parenting Islam dan konsultan pernikahan.
Cair, mengalir dan akrab. Begitulah gambaran ketika ustadz Fauzil berdakwah. Lelaki kelahiran Mojokerto, 29 Desember 1972 ini adalah keturunan kyai. lbunya bernama Aminatuz Zuhriyah berasal dari keluarga pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras Jombang, sedangkan ayahnya berasal dari Pacitan, termasuk keluarga pesantren Termas.
Walaupun berasal dari keluarga kiai, penulis yang terkenal dengan trilogi Kupinang Engkau dengan Hamdalah itu tidak serta merta menjadi seorang yang religius. Waktu SMA, ia lebih senang bergelut dengan puisi dan teater. Bahkan, dirinya sering menginap di sekolah, dan berambut gondrong.
Meskipun demikian, penulis yang piawai dalam membuat judul-judul yang puitis dan romantis itu mengaku tidak luput dari hal berkecamuk saat remaja. Sejak duduk di bangku SMP, ia sering mempertanyakan eksistensi manusia. Bagaimana akhir kehidupan ini nantinya?. Pertanyaan seputar keabadian sering mengusik batinnya sampai ia duduk dibangku SMA.
Pernah dalam suatu hari, ia menginap di sekolah. Fauzil mendengar lagu Air Supply yang berjudul Listen to Your Heart. Ketika itu muncul pertanyaan dalam dirinya, bagaimana bisa mendengarkan isi hati, sedangkan isi hati saja tidak tahu. Kebenaran dan ketenangan itu ada di hati. Dia teringat sabda Nabi Muhammad SAW, 'Mintalah pada nuranimu'. Tapi bait-bait Air Supply itu terngiang selalu di telinganya.
Penerungannya membuat Fauzil sedikit limbung. Tentang dunia teater, misalnya. Semboyan teater adalah mengembalikan manusia pada fitrahnya. Namun, bagaimana mungkin mengembalikan manusia ke fitrahnya, kalau manusia tidak paham apa arti fitrah itu sendiri?.
Berbagai pertanyaan itu berakumulasi dan akhirnya bermuara pada kesadaran Fauzil untuk mencari jalan hidup yang benar. Kesimpulannya, jalan hidup yang benar adalah yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya melalui Alquran dan Hadis.
Akhirnya, sejak akhir kelas II SMA, Fauzil mencukur rambut gondrongnya. Ia yang sewaktu SMP aktif menulis resensi musik di media massa, mulai kelas II SMA rajin menulis artikel-artikel tentang pendidikan dan keluarga. Saat itu, ia juga sudah mulai memasukkan nilai-nilai keislaman ke dalam naskah cerpen dan skenario yang ditulisnya meskipun tidak verbal. Fauzil juga ikut bergabung dengan remaja masjid.
Kesadaran itu terus berlanjut saat ia kuliah di Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Ketika itu ia terus aktif menulis, baik cerpen, reportase, maupun nonfiksi. Ketika kuliah itulah, Fauzil mendapakan momentum kesadaran yang lebih tinggi lagi. Boleh dikatakan, inilah titik balik yang paling menentukan dalam kehidupannya. Suatu hari, seorang teman seangkatannya yang selama ini aktif menggerakkan kegiatan keislaman di kampus, meninggal dunia.
Dua minggu sebelum meninggal, dalam keadaan sakit teman itu datang kepada Fauzil. Ia berwasiat kepada Fauzil agar meneruskan perjuangan dakwah. Ia juga mengusulkan kepada Fauzil agar segera menikah, membina rumah tangga, dan menyiapkan generasi rabbani yang senantiasa bersandar pada nilai-nilai Islam.
Ketika berada di pemakaman, ia terus merenung. Ia meyakini temannya itu meninggal dunia dalam keadaan baik (husnul khatimah). Lalu bagaimana dengan dirinya sendiri ?. sejak saat itu, Fauzil makin aktif berdakwah. Baik lewat tulisan maupun ceramah.
Fauzil akhirnya memutuskan untuk menikah. Dia menikah dengan Siti Mariana Anas beddu. Hingga saat ini, beliau telah dikaruniai enam anak. Mereka diantaranya Fathimatuz Zahra, Muhammad Husain As-Sajjad, Muhammad Hibatillah Hasanin, Muhammad Nashiruddin An-Nadwi, Muhammad Navies Ramadhan, dan Safa.


Awalnya secara finansial, kehidupannya begitu berat. Mereka tinggal di rumah kontrakan kecil yang atapnya bocor. Tidur di atas tikar bekas dan koran, serta bantal terbuat dari gulungan kain bekas. Mereka pun kerap kehabisan uang. Namun semua itu dapat dilalui dengan sabar dan berkah.
Kini, Fauzil telah menguasai bahasa Inggris, menguasai teater, mengerti tentang fotografi, desain, dan layout buku. Selain itu, ia juga paham tentang perkembangan terbaru di bidang teknologi informasi. Kalau ceramah, ia sering menggunakan rekaman peristiwa, lagu, dan foto-foto tentang manusia, alam serta lingkungan yang membuat jamaah terdiam, terkesima, bahkan menangis.
Fauzil Adhim sangat piawai membuat para pendengarnya tetap memasang mata dan telinga untuk memperhatikan ceramah-ceramahnya. Kemampuannya berorasi sangat memukau. Ia pun kerap diundang sebagai penulis maupun penceramah ke berbagai kota di Indonesia, bahkan manca negara, termasuk Hongkong, Singapura, Malaysia, dan Mesir.
Kemampuannya dalam menulis berawal dari buku yang dipinjamkan ibunya dari perpustakaan. Buku-buku itu kemudian merangsangnya untuk menulis. Fauzil Adhim tumbuh menjadi pecinta buku semenjak SD. Ia menulis di media masaa sejak SMP kelas 3 di Kutorejo, Mojokerto. Namun, mulai benar-benar ditekuni semenjak masuk SMA di SMA Negeri 2 Jombang.
Beberapa karya best seller-nya antara lain Kupinang Engkau Dengan Hamdalah, Saatnya Untuk Menikah, dan Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan. Ada juga buku lainnya yaitu Saat Berharga Untuk Anak Kita dan Segenggam Iman Anak Kita yang membuat namanya tidak cukup asing bagi kalangan para remaja muslim.
Selain menulis buku, Fauzil juga menulis di Harian Republika untuk rubrik Hikmah. Ia juga menulis di MPA (Mimbar Pembangunan Agama) Surabaya. Sebelumnya, ia sempat aktif menulis di berbagai media massa untuk masalah-masalah kewanitaan. Beliau mengawalinya sebagai kolumnis di berbagai majalah yang kaitannya dengan keluarga.
Kolumnis tetap majalah Hidayatullah ini sekarang aktif sebagai narasumber berbagai seminar dan workshop bagi para guru. Khususnya tentang merancang program motivasi di sekolah dan menjadi guru yang disegani. Ia juga aktif mengisi seminar keayahbundaan (parenting)

Sumber di Kutip dari : m.gomuslim.co.id









Komentar

Postingan Populer